Back to Blog
self esteem
3 min read
Dr. Kurniawan

“Saya Pernah Minder, Kini Jadi Pembicara” Kisah Polio dan Perjalanan Kemenangan dari Diam Jadi Dipercaya

Banyak orang melihat saya sekarang sebagai dosen linguistik, trainer public speaking, dan motivator percaya diri. Mereka melihat saya berbicara lantang di panggung, memotivasi peserta dengan semangat, dan terlihat begitu yakin ketika memandu pelatihan. Tapi sedikit yang tahu bahwa dulu saya tidak bisa bicara. Bahkan untuk sekadar menjawab pertanyaan guru pun saya hanya bisa menangis.

Saya terlahir sehat, normal, dan seperti anak-anak lainnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa hidup saya akan berubah drastis. Namun, di usia balita, saya terserang polio pada tangan kanan. Saat itu, dunia saya seperti berubah dalam sekejap. Di sekolah, bukan hanya tubuh saya yang terluka. Saya jadi korban bullying, diejek karena fisik saya berbeda. Tapi yang paling menyakitkan bukan ejekannya, melainkan rasa takut yang tumbuh di dalam diri saya. Rasa takut terus menghantui dan menyeret saya ke dalam kediaman. Saya mulai kehilangan suara saya.

Ketika ditanya oleh guru, yang keluar bukan suara saya, melainkan air mata. Bukan karena saya tidak tahu jawabannya. Tapi karena bibir saya kaku, mulut saya terkunci. Saya ingin bicara, tapi tubuh saya menolak. Itu terjadi di SD. Berlanjut di SMP. Bertahun-tahun saya membawa rasa malu, takut, dan luka itu dalam diam. Bayangkan, saya tidak bisa berbicara di sekolah. Tapi anehnya, di luar sekolah saya bisa berbicara normal. Kenapa bisa begitu? Karena sekolah bagi saya adalah medan tempur, tempat suara saya dibungkam oleh rasa takut dan ingatan akan ejekan.

SMA mempertemukan saya dengan keberanian. Masuk SMA, suasananya berbeda. Tidak ada bully. Tidak ada ejekan. Tidak ada tatapan meremehkan. Seperti ada ruang baru yang terbuka: ruang untuk menjadi diri sendiri. Teman-teman saya Artha, Erwien, Triyo, dan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Kalian adalah tempat hangat yang mengangkatku dari kediaman. Pelan-pelan, saya mulai bisa berbicara di kelas. Masih gugup. Masih penuh rasa ragu. Tapi kali ini saya tidak menangis lagi. Saya mulai percaya: “Saya bisa.” Saya menemukan sesuatu. Keberanian itu bukan datang setelah rasa takut hilang tapi muncul ketika kita tetap melangkah meski masih takut.

Banyak orang bertanya pada saya sekarang, "Bagaimana caramu bisa berdiri di atas panggung dengan percaya diri?" Jawaban saya sederhana. Saya belajar bicara bukan karena saya percaya diri. Saya belajar bicara karena saya tidak ingin lagi diam dalam ketakutan. Saya belajar public speaking bukan untuk menjadi hebat tapi untuk menebus masa lalu saya. Menyembuhkan luka yang dulu membuat saya bisu. Saya ingin menunjukkan pada semua orang, terutama mereka yang berbeda. Bahwa tidak apa-apa kamu takut. Tapi jangan biarkan ketakutan itu mencuri masa depanmu.

Kalau kamu sekarang sedang merasa tidak mampu, merasa berbeda, atau dihina karena kekuranganmu, percayalah, itu bukan akhir. Saya pernah ada di posisi kamu. Saya dulu tidak bisa bicara di kelas. Tapi kini saya berbicara di panggung-panggung nasional. Bukan karena saya lahir dengan bakat bicara tapi karena saya menolak membiarkan masa lalu menentukan akhir hidup saya.

Kepercayaan diri adalah ketika kamu berani berdiri meski pernah jatuh. Dan saya di sini hari ini bukan untuk pamer tapi untuk bilang, kalau saya bisa, kamu pun bisa.