Saya Dulu Sering Merasa Tidak Layak. Ini 5 Kebiasaan Pikiran yang Dulu Membuat Saya Minder (dan Bagaimana Saya Mengubahnya)
Ada masa dalam hidup saya ketika saya benar-benar merasa… tidak layak untuk dilihat, didengar, apalagi diperhitungkan.
Saya tumbuh sebagai anak ketiga laki-laki empat bersaudara. Dua kakak saya adalah dua “pahlawan keluarga” cerdas, sehat, dibanggakan oleh orang tua, sekolah, bahkan oleh tetangga. Adik saya perempuan, satu-satunya, cantik, energik, lincah, disayang semua orang. Sedangkan saya?
Saya dulu sering memandangi mereka dan bertanya dalam hati, “Kenapa saya tidak seperti mereka?” Saya terlahir sehat. Tapi polio menyerang saya saat balita. Tangan kanan saya lemah. Dan sejak saat itu… saya mulai merasa “berbeda”.
Belum cukup dengan rasa minder, saya harus tumbuh dalam lingkungan yang cukup “jujur”, bahkan kejam. Tetangga pernah bilang, “Sing iki elek dewe yo gak koyok Mas e.. iki sing nak cacat iku yo.” (yang ini paling jelek ya tidak seperti kakaknya...ini yang anak cacat ya?) Saya tersenyum waktu itu. Tapi hati saya runtuh. Kalimat itu diucapkan tetangga saya yang sedang membahas saya dan kakak saya. Mereka berbicara di depan saya. Saat itu saya masih SD kelas 1 atau kelas 2. Mungkin mereka mengira saya tidak mengerti padahal hati saya sangat hancur mendengarnya walaupun saya respon mereka dengan tersenyum.
Di sekolah, saya jadi korban bully. Waktu masih SD ada yang bilang saya kurang gizi adapula teman yang mengatakan ibu saya makan yuyu, ’Iku ibu e mangan yuyu pas meteng mangkane anak e iso cacat’ (itu ibunya mungkin makan yuyu saat hamil sehingga anaknya bisa cacat). Saya hanya tersenyum saat mendengar itu tapi tidak ada orang yang tahu betapa hancurnya hati saya. Saya tidak hanya merasa berbeda, tapi benar-benar merasa tidak layak. Bully yang saya terima entah disengaja atau tidak disengaja secara terus menerus dalam hidup saya membuat saya semakin hari semakin sulit berbicara. Saya berjuang menjawab pertanyaan di kelas, tapi suara saya hilang, dan air mata justru yang bicara.
Lama sekali saya hanyut dalam pola pikir yang keliru. Tapi suatu hari… saya sadar, pola pikir itulah yang membunuh kepercayaan diri saya. Bukan polionya. Hari ini, saya ingin berbagi 5 kesalahan pola pikir yang dulu menghancurkan rasa layak saya dan bagaimana saya mengatasinya satu per satu hingga berani bicara di panggung.
Selalu Membandingkan Diri, “Aku harus seperti mereka kalau mau dianggap hebat.” Contoh nyatanya: Saya dulu sering membandingkan diri dengan kakak atau adik saya. Mereka sehat, pintar, menarik. Saya merasa tidak layak kalau tidak jadi seperti mereka. Solusi: Bandingkan diri dengan diri kamu yang kemarin, bukan dengan orang lain hari ini. Mulai lihat perkembangan kecilmu bukan kekuranganmu.
Merasa Diri Tidak Layak Dicintai atau Dihargai, “Kalau saya cacat, tidak ada orang yang benar-benar peduli. ”Contoh nyatanya: Saya sering menolak bantuan, perhatian, bahkan pujian. Dalam hati masih ada bisikan: “Mereka hanya kasihan.” Solusi: Terima bahwa harga diri tidak diukur dari fisik atau prestasi, tapi dari keberadaan kita sebagai manusia. Mulai dengan menerima pujian kecil tanpa menyangkalnya.
Mengabaikan Kekuatan Diri Sendiri, “Saya tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan.” Contoh nyatanya: Saya dulu tidak sadar bahwa saya punya sensitivitas, empati, dan kemampuan memahami orang lain, kekuatan yang sebenarnya langka. Solusi: Catat hal-hal baik yang kamu miliki meski kecil. Tanyakan pada orang yang kamu percayai: “Hal baik apa yang kamu lihat dalam diriku?”
Berpikir Semua Orang Sedang Menilai Kita,“Kalau saya salah bicara, semua orang akan mengejek saya.” Contoh nyatanya: Karena sering diejek, saya jadi overthinking. Takut bicara. Takut salah. Solusi: Latih diri untuk berpikir netral, sebagian orang tidak peduli kita, sebagian mendukung, sebagian lagi hanya sibuk dengan hidupnya. Yang penting: berani dulu, sempurna belakangan.
Mengizinkan Suara Negatif dalam Kepala Jadi Penguasa, “Saya memang tidak cocok tampil. Lebih baik diam.” Contoh nyatanya: Inner critic, pesimis dalam kepala, sering lebih galak daripada orang lain. Solusi: Lawan suara negatif itu dengan argumen positif. Ketika inner critic bilang: “Jangan bicara.” Kamu jawab: “Aku layak. Suaraku berharga. Aku belajar untuk jadi lebih baik.”
Saat ini, saya berdiri sebagai pembicara dan pelatih kepercayaan diri, bukan karena saya bebas dari kekurangan… tapi karena saya akhirnya memilih untuk menghargai diri saya sendiri.
Self-esteem bukan tentang menyembunyikan cacat. Self-esteem adalah ketika kita merangkul diri kita sepenuhnya, dan berkata: “Aku tetap berharga.” Dan kamu juga berharga. Bukan nanti, bukan setelah sempurna tapi sekarang.